Pabrik Sawit PT RAP Tutup, TBS Petani Menumpuk dan Membusuk, Pemerintah Kapuas Hulu Didesak Turun Tangan
On Oktober 11, 2026
KAPUAS HULU, BIDIKSATUNEWS.COM — Penutupan operasional pabrik kelapa sawit milik PT RAP (Riau Agrotama Plantation) di Kecamatan Silat Hilir, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, menimbulkan keresahan di kalangan petani kelapa sawit mandiri. Kondisi tersebut dikeluhkan karena tandan buah segar (TBS) yang telah dipanen dilaporkan menumpuk dan berangsur membusuk akibat tidak dapat segera dijual atau diolah.
Situasi ini menjadi persoalan serius bagi petani yang menggantungkan penghasilan sehari-hari dari perkebunan kelapa sawit. Di tengah kebutuhan rumah tangga dan biaya operasional kebun yang terus berjalan, terhentinya penyerapan hasil panen membuat para petani menghadapi ketidakpastian pendapatan.
Petani berharap manajemen PT RAP segera memberikan kejelasan mengenai penghentian operasional pabrik, termasuk langkah yang akan ditempuh untuk mengatasi dampaknya terhadap hasil panen masyarakat.
TBS Menumpuk, Petani Terancam Mengalami Kerugian.
Bagi sebagian masyarakat di Kecamatan Silat Hilir, perkebunan kelapa sawit merupakan sumber mata pencaharian utama. Hasil panen menjadi tumpuan untuk memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus membiayai perawatan kebun pada musim tanam berikutnya.
Namun, ketika pabrik tidak beroperasi, petani menghadapi kesulitan untuk menyalurkan TBS yang sudah dipanen. Buah sawit yang tidak segera diangkut dan diolah berisiko mengalami penurunan mutu, sehingga dapat berdampak terhadap nilai jual dan pendapatan petani.
“Buah sawit kami yang sudah matang dan siap panen terpaksa dibiarkan menumpuk hingga membusuk di dekat kebun. Kalau terus begini, kami bisa mengalami kerugian besar dan kehilangan mata pencaharian,” ujar salah seorang perwakilan petani sebagaimana disampaikan dalam laporan ini.
Persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan hasil panen yang tidak terserap. Petani juga harus menanggung biaya pemupukan, perawatan tanaman, tenaga kerja, serta ongkos panen yang telah dikeluarkan sebelum buah sawit dipetik.
Apabila kondisi ini berlangsung dalam waktu lama, tekanan ekonomi yang dirasakan petani dikhawatirkan semakin berat. Karena itu, kepastian mengenai penyerapan TBS menjadi kebutuhan mendesak bagi masyarakat yang bergantung pada komoditas kelapa sawit.
Petani Mendesak Manajemen PT RAP Memberikan Kepastian.
Menghadapi kondisi tersebut, para petani mendesak manajemen PT RAP agar segera mengambil langkah konkret. Mereka berharap operasional pabrik dapat kembali berjalan sehingga hasil panen masyarakat memiliki jalur pemasaran yang jelas.
Selain pembukaan kembali pabrik, petani juga membutuhkan penjelasan mengenai penyebab penghentian operasional, perkiraan waktu operasional dapat dimulai kembali, serta kemungkinan solusi sementara bagi TBS yang sudah dipanen.
Jika pabrik belum dapat beroperasi dalam waktu dekat, petani berharap perusahaan dapat membantu mencarikan alternatif penjualan atau penyaluran hasil panen ke pabrik lain yang memungkinkan dijangkau masyarakat.
Langkah tersebut dinilai penting agar beban akibat terhentinya penyerapan TBS tidak sepenuhnya ditanggung oleh petani mandiri.
Meski demikian, penyebab penutupan operasional pabrik, durasi penghentian, dan kemungkinan solusi yang disiapkan perusahaan masih perlu dipastikan melalui keterangan resmi dari pihak manajemen PT RAP.
Pemerintah Daerah Diminta Tidak Tinggal Diam.
Selain meminta kepastian dari perusahaan, petani berharap Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu dan instansi terkait segera turun tangan memfasilitasi komunikasi antara masyarakat dan manajemen perusahaan.
Pemerintah daerah diharapkan dapat menampung keluhan petani, mengupayakan pertemuan dengan pihak perusahaan, serta memetakan alternatif penyaluran TBS apabila penghentian operasional pabrik belum dapat diakhiri dalam waktu dekat.
Persoalan ini perlu mendapat perhatian karena dampaknya berpotensi meluas ke aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar perkebunan. Ketika hasil panen tidak dapat dipasarkan, perputaran uang di tingkat petani, pekerja kebun, dan pelaku usaha pendukung juga berisiko terganggu.
Petani kecil membutuhkan kepastian agar hasil kerja mereka tidak terbuang sia-sia. Oleh sebab itu, komunikasi terbuka antara perusahaan, pemerintah daerah, dan perwakilan petani menjadi langkah penting untuk mencari jalan keluar yang dapat dipertanggungjawabkan.
Menunggu Kejelasan dan Langkah Nyata.
Hingga berita ini disusun, belum terdapat keterangan resmi dari manajemen PT RAP mengenai penyebab penutupan operasional pabrik, jangka waktu penghentian, maupun langkah penanganan terhadap keluhan petani. Keterangan dari pemerintah daerah dan instansi terkait juga masih diperlukan untuk memperoleh gambaran yang lebih lengkap mengenai persoalan tersebut.
Pihak perusahaan diharapkan memberikan penjelasan agar masyarakat memperoleh informasi yang jelas dan tidak terus berada dalam ketidakpastian. Sementara itu, pemerintah daerah diharapkan memfasilitasi penyelesaian persoalan dengan mempertimbangkan kondisi petani yang hasil panennya membutuhkan penanganan segera.
Bagi petani sawit mandiri di Kecamatan Silat Hilir, persoalan ini bukan sekadar mengenai berhentinya aktivitas sebuah pabrik. Lebih dari itu, keberlangsungan mata pencaharian dan kemampuan mereka memenuhi kebutuhan keluarga turut dipertaruhkan.
Masyarakat kini menantikan langkah nyata dari manajemen PT RAP dan pemerintah daerah agar persoalan penumpukan TBS segera memperoleh jalan keluar.
Penulis: Bambang
Media: Bidiksatunews.com
Tanggal: 12 Oktober 2026