Palangka Raya, Bidiksatunews.com — Munculnya kasus radikalisme di lingkungan sekolah menjadi peringatan serius bagi dunia pendidikan nasional. Peristiwa tersebut tidak hanya mengguncang rasa aman masyarakat, tetapi juga mengungkap fakta yang mengkhawatirkan terkait keterlibatan jaringan lintas daerah, termasuk salah satu kabupaten di Kalimantan Tengah.
Hasil penelusuran aparat keamanan menunjukkan bahwa aksi tersebut tidak berdiri sendiri. Dari pendalaman lebih lanjut, diketahui terdapat dua anak di daerah tersebut yang terpapar paham radikalisme dan berada dalam jaringan yang sama dengan pelaku utama, yang terhubung melalui satu grup dalam permainan daring Roblox.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar mengenai peran sekolah dalam membentengi peserta didik dari pengaruh negatif, terutama di era digital. Di satu sisi, gawai menjadi sarana pembelajaran, namun di sisi lain berpotensi menjadi pintu masuk ideologi menyimpang jika tidak diawasi secara tepat.
Menanggapi situasi tersebut, awak media Liputan SBM mendatangi SMA Negeri 1 Palangka Raya untuk melihat langsung langkah konkret yang dilakukan sekolah dalam membangun karakter siswa sebagai upaya pencegahan dini terhadap penyimpangan perilaku dan tindak kejahatan pada anak.
Kepala SMA Negeri 1 Palangka Raya, Drs. Arbusin, mengatakan bahwa pihak sekolah telah menerapkan kebijakan pembatasan penggunaan telepon genggam sejak dua tahun terakhir. Salah satu bentuknya adalah penyediaan loker khusus untuk menyimpan ponsel siswa selama jam sekolah.
“Untuk mencegah dan mengantisipasi ketergantungan pada gadget, kami menyediakan loker khusus untuk menyimpan HP siswa. Selama berada di sekolah, siswa tidak diperkenankan bermain HP,” ujarnya. Senin (16/1/2026). Menurut Arbusin, kebijakan tersebut merupakan bagian dari strategi pendidikan karakter yang lebih komprehensif. Sekolah tidak hanya bertugas mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter dan moral peserta didik.
Sebagai wujud komitmen tersebut, SMA Negeri 1 Palangka Raya menerapkan lima nilai utama pendidikan karakter, yakni religius, santun, disiplin, bersih, dan kerja keras. Nilai-nilai ini diinternalisasikan dalam proses pembelajaran maupun aktivitas keseharian siswa. “Karakter yang kuat adalah benteng utama anak-anak kita. Jika nilai-nilai ini tertanam sejak dini, mereka akan lebih mampu memilah pengaruh buruk dari luar, termasuk yang datang melalui media digital,” jelasnya.
Selain itu, pihak sekolah juga aktif menjalin koordinasi dengan berbagai instansi, seperti Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Kementerian Agama, serta aparat penegak hukum. Sinergi ini dilakukan untuk memastikan pembinaan siswa berjalan menyeluruh, mencakup aspek akademik, mental, sosial, dan hukum.
Arbusin juga mengingatkan bahwa Kementerian Pendidikan telah membentuk Tim Penanggulangan dan Pencegahan Kekerasan di Sekolah sebagai upaya sistematis dalam mengantisipasi berbagai bentuk pelanggaran dan kekerasan di lingkungan pendidikan. “Semua ini dilakukan agar siswa tidak terjerumus pada perbuatan yang melanggar hukum dan merugikan masa depan mereka sendiri,” pungkasnya.
Newest
You are reading the newest post
You are reading the newest post
Next
Next Post »
Next Post »