Kapolres Kapuas Hulu

Kapolres Kapuas Hulu

Keluarga Besar Bidiksatunews Mengucapan Selamat Hari Natal

Keluarga Besar Bidiksatunews Mengucapan Selamat Hari Natal

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Pemerintah daerah Sintang,dinilai gagal untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Ambalau,gas LPG,3 kg.dan BBM langka.sehingga memaksa warga turun kejalan melakukan aksi.

www.bidiksatunews com

Sintang, Kalbar | Realitas – Krisis Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite dan Gas Elpiji 3 kilogram yang berkepanjangan di Kecamatan Ambalau, Kabupaten Sintang, memicu aksi protes masyarakat. Warga yang tergabung dalam Aksi Masyarakat Peduli Kecamatan Ambalau turun menyuarakan tuntutan agar pemerintah dan pihak terkait segera mengambil langkah konkret.

Aksi damai berlangsung di halaman Kantor Camat Ambalau, Kamis 8 Januari 2025. Dalam aksinya warga membawa gas dan jerigen kosong sebagai bentuk protes. Tak ketinggalan juga baliho protes bertuliskan “Tolong Aparat Menindak Tegas Mafia Migas di Ambalau”.

Dalam aksi tersebut, masyarakat menyampaikan tiga poin tuntutan utama, menyusul dampak serius kelangkaan energi yang dirasakan langsung oleh warga, baik rumah tangga maupun pelaku ekonomi kecil.

Tokoh Masyarakat sekaligus koordinator aksi , Antonius Junas, mengatakan kelangkaan Elpiji 3 Kg tidak hanya membuat barang sulit diperoleh, tetapi juga menyebabkan harga melambung jauh di atas charga eceran tertinggi (HET). Kondisi ini memaksa sebagian warga kembali menggunakan kayu cbakar untuk memasak.

“Ini sangat memprihatinkan. Masyarakat terpaksa kembali ke cara-cara lama untuk memenuhi kebutuhan dasar. Ini jelas bentuk kemunduran kesejahteraan,” ujar Junas

Selain Elpiji, krisis juga terjadi pada BBM Pertalite yang menjadi bahan bakar utama transportasi air. Padahal, transportasi sungai merupakan urat nadi mobilitas masyarakat Ambalau, mengingat keterbatasan akses jalur darat.

Menurut Junas, kelangkaan BBM telah berdampak luas, mulai dari terhambatnya arus balik pelajar ke sekolah, kesulitan warga yang hendak berobat, hingga melonjaknya biaya transportasi. Aktivitas ekonomi masyarakat pun ikut terganggu karena ketergantungan penuh pada jasa transportasi air.

“Tanpa BBM, aktivitas hampir lumpuh. Warga tidak bisa bepergian, distribusi barang terhambat, dan roda ekonomi melambat,” jelasnya.

Melalui aksi ini, masyarakat juga menuntut penambahan kuota Elpiji 3 Kg dan BBM khusus bagi pemegang izin pangkalan resmi di Kecamatan Ambalau. Mereka meminta pemerintah memastikan distribusi energi benar-benar tepat sasaran dan merata hingga ke wilayah Ambalau, bukan hanya berhenti di atas kertas.

Penanggung jawab aksi, Yosef Obeng, menegaskan pentingnya penindakan tegas terhadap oknum yang diduga menyebabkan kelangkaan dan permainan harga di lapangan.

“Kami menuntut pemerintah dan pihak terkait bertindak tegas terhadap pihak-pihak yang mempermainkan distribusi. Masyarakat Ambalau berhak mendapatkan BBM dan Elpiji dengan harga wajar dan pasokan yang terjamin,” tegas Obeng .

( Tem)

Previous
« Prev Post