Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Silat Hulu "Terisolasi" Lumpur: Jeritan Rakyat di Tengah Jalan yang Terlupakan.

www.bidiksatunews.com.
5/mei/2026
KAPUAS HULU – Pemandangan roda sepeda motor yang tenggelam separuh badan ke dalam lumpur dan truk-truk logistik yang harus ditarik paksa bukan lagi pemandangan asing, melainkan "makanan sehari-hari" yang pahit bagi masyarakat Kecamatan Silat Hulu. Di balik rimbunnya hutan Kalimantan, tersimpan keputusasaan mendalam dari warga yang merasa dianaktirikan oleh pemerintah.

Kondisi infrastruktur jalan yang hancur lebur kini telah mencapai titik nadir. Jalan yang seharusnya menjadi urat nadi perekonomian dan akses utama pendidikan serta kesehatan, kini berubah menjadi kubangan raksasa yang siap menelan kendaraan apa pun yang melintas.
Janji yang Tak Kunjung Tiba
Masyarakat merasa pemerintah telah menutup mata.
 Prioritas pembangunan yang kerap didengungkan dalam pidato politik terasa seperti pepesan kosong bagi warga Silat Hulu.
"Kami merasa seperti bukan bagian dari negeri ini. Jalan yang seharusnya diutamakan justru diabaikan.

 Apakah kami harus menunggu ada korban jiwa baru ada perbaikan?" ujar salah satu warga yang enggan disebutkan namanya dengan nada getir.

Dampak Nyata: Ekonomi Lumpuh, Rakyat Sengsara
Bukan hanya soal sulitnya melintas, hancurnya jalan ini berdampak domino pada kehidupan warga:
Harga Bahan Pokok Melonjak: Biaya angkut yang tinggi karena kendaraan sering terjebak lumpur membuat harga kebutuhan sehari-hari mencekik leher.

Akses Kesehatan Terhambat: Bayangkan jika ada warga yang sakit parah atau ibu yang hendak melahirkan; perjalanan yang seharusnya singkat berubah menjadi pertaruhan nyawa.

Pendidikan Terganggu: Guru dan siswa harus berjuang melawan lumpur setiap pagi hanya untuk sampai ke sekolah.
Gotong Royong di Tengah Keputusasaan
Dalam foto-foto yang beredar, terlihat jelas bagaimana warga harus bahu-membahu menarik kendaraan yang terjebak. Tanpa bantuan alat berat dari pemerintah, mereka hanya mengandalkan tenaga fisik dan peralatan seadanya.

Aksi gotong royong ini bukan lagi simbol kekompakan, melainkan simbol keterpaksaan karena tidak adanya kehadiran negara di jalur tersebut.

Harapan Masyarakat
Melalui berita ini, masyarakat Silat Hulu menuntut aksi nyata, bukan sekadar survei atau janji manis di masa kampanye. Mereka meminta Pemerintah Kabupaten maupun Provinsi segera menurunkan anggaran darurat untuk perbaikan jalan ini.
Silat Hulu tidak butuh retorika. Mereka butuh aspal, mereka butuh akses, dan mereka butuh keadilan.

Penulis: Bambang.

Newest
You are reading the newest post